Suara
gemuruh terdengar dari bawah bumi pada sejumlah daerah di lereng Gunung Wilis
(2.552 meter dari permukaan laut), Jawa Timur, sejak dua pekan lalu. Warga Desa Kare, Kecamatan
Kare, Kabupaten Madiun, terakhir kali mendengar suara itu pada Senin (21/2)
pukul 03.00.
Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban
(Tramtib) Kecamatan Kare, Pemerintah Kabupaten Madiun, Muhamad Nuh
mengungkapkan, ada warga yang mengaku mendengar gemuruh itu sejak sebulan
terakhir. Ada yang mengaku selama dua minggu terakhir. ”Sebenarnya juga terdengar
pada siang hari, tetapi mungkin karena pagi hari buta masih sangat sepi
sehingga lebih terasakan,” katanya.
Marjoko, pegawai Kecamatan Kare, menjelaskan,
suara gemuruh berlangsung hanya beberapa detik. Sehari bisa berlangsung
beberapa kali, tetapi kadang tidak ada sama sekali. ”Menurut warga, makin dekat
dengan puncak Gunung Wilis, suara (gemuruh) makin terasa kuat,” ujar Marjoko.
Gemuruh itu terdengar sampai di lereng Gunung
Wilis di Kabupaten Nganjuk, Ponorogo, dan
Trenggalek. Menurut Marjoko, ia pernah naik ke puncak Gunung Wilis, dan
menegaskan tak ada lubang kawah di sana. ”Saya hanya mencapai puncak pertama,
yang disebut Watu Garudo, empat jam jalan kaki menembus hutan rimba punggung
Wilis, tetapi di atasnya masih ada puncak gunung lagi,” katanya.
Tak ada aktivitas uap belerang, air panas,
atau tanda-tanda kegiatan vulkanik di Gunung Wilis. Jalur pendakian juga sepi
dari kunjungan kegiatan pendaki.
Menurut Nuh, pihaknya sudah melaporkan
peristiwa gemuruh yang meresahkan warga ini kepada Pemkab Madiun. Warga
mengaitkan dan mencemaskan gejala ini dengan fenomena lumpur Lapindo dan gempa
di Yogyakarta, serta aktivitas Gunung Bromo dan Gunung Kelud. Apalagi di Gunung
Kelud mengalami kelahiran anak gunung baru.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi Badan Geologi menegaskan, suara gemuruh itu disebabkan kejadian gerakan
tanah. Kejadian ini tak terkait aktivitas tektonik dan vulkanik Gunung Wilis.
”Kejadian yang sama pernah terjadi di Samosir
tahun 2005, Lampung (2006), dan Sumedang (2010). Itu adalah gerakan tanah biasa
dan berhenti saat masuk musim kemarau,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan
Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Surono di Bandung.
Surono mengatakan, penyebab utama kejadian
ini karena tanah di sekitar lereng Wilis sangat lapuk yang merupakan sisa
endapan vulkanik. Daerah itu juga tergolong labil karena banyak terdapat
patahan. ”Tetapi, saya tegaskan, kejadian ini bukan gempa bumi atau pengaruh
kegiatan vulkanik Gunung Wilis,” katanya.
Kepala Bidang Pengamatan Gerakan Tanah PVMBG
Badan Geologi I Gede Suantika mengatakan telah mengirimkan tim guna mengamati
kejadian ini di Trenggalek dan Ponorogo.
Selanjutnya, ia akan menerjunkan tim dengan alat pengamat getaran tanah di
sekitar Ngawi.
Swara Gemuruh dari gunung Wilis yang terjadi
pada tahun 2011 lalu
Kini mulai muncul terdengar lagi pada april
2017 ini.
apakah dibalik misteri gunung wilis ini???
masih dalam tanda tanya Besar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar